Tuesday, 14 April 2015

Karena sesungguhnya merasa nyaman itu (tidak) nyaman

Akhir-akhir ini saya sering dicurhati tentang masalah-masalah percintaan yang tak jauh-jauh dari bahagianya jatuh cinta, jatuh cinta pada orang yang salah, CLBK*, diduakan, sampai cerita perselingkuhan. Dari semua cerita yang saya dengar dan simak, semua cerita punya satu kesamaan; para pelaku mengaku merasa nyaman.

Nyaman karena merasa dicintai. nyaman karena bisa berbagi cerita. nyaman karena menemukan suasana baru. Nyaman karena merasa bisa diterima. Intinya kenyamanan membuat mereka bahagia. Masing-masing mengutarakan kisahnya dengan bahagia. Saya menyimak cerita mereka dengan serius.
Cerita mereka rata-rata berakhir dengan kegalauan. dengan keraguan. dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya jauh dari kesan nyaman.

Sebenarnya saya tidak merasa cukup credible untuk mnjawab atau membantu mencari jalan keluar, maka kepada beberapa dari mereka saya memberi perumpamaan sperti begini; Rasa nyaman adalah ketika kita duduk atau rebahan santai seharian depan TV, menikmati film serie favorit, atau main play station, atau melakukan hal menarik lainnya yang mebuat kita nyaman tanpa memperdulikan waktu, orang-orang sekitar, dan kegiatan lain yang seharusnya kita lakukan. Bukankah itu suatu kenyamanan yang sulit untuk kita tolak? Kenyamanan yang ingin kita nikmati selamanya. Yang rasa-rasanya tak mau kita sudahi. Namun kita tidak mungkin selamanya duduk depan TV bukan? Kita tidak mungkin selamanya bermalas-malasan menikmati kenyamanan itu. Ada saatnya –mau tidak mau- kita harus beranjak untuk melakukan hal-hal lain. Di saat itu kenyamanan berakhir, hidup berlanjut. Memang kita akan kembali duduk disitu, tapi apakah kita akan merasakan kenyamanan yang sama? Apakah kursi itu masih kosong seperti sebelumnya? Ini adalah ketidakpastian.

Banyak dari kita terkadang enggan mengalami perubahan. Kita lebih memilih tinggal daripada beranjak. Lebih memilih menderita daripada malu. Memilih nyaman daripada sakit hati. Memilih melanjutkan daripada menghentikan. Sebagai pembenaran, kita sering berujar “Saya juga tidak tau kenapa bisa jadi begini” atau “Saya bingung harus bagaimana” atau “Semuanya mengalir alami”.

Ujaran-ujaran tersebut sama sekali tidak mendasar. Bagaimana mungkin kita tidak tau apa yang kita lakukan atau mengapa kita bisa sampai melakukan sesuatu? Bukankah itu konyol? Itu kelemahan. Memang kelemahan bukan aib. Tapi kelemahan yang kita lakukan dengan sadar –namun berdalih tidak sadar- adalah kelemahan yang seharusnya tidak ada. Kitalah yang harus menguasai diri atas semua yang kita lakukan. Seperti kata Miley Cyrus; We run things, things don’t run we**.

Sekali lagi saya katakan, saya tidak merasa cukup credible untuk memberi saran, namun tips yang saya ‘jagokan’ dan selalu saya berikan adalah “ Nikmati apa yang bisa dinikmati selama bisa, namun tetap membumi. Tetap berpijak di tanah. Jangan melayang barang sedikitpun dari bumi tempatmu berpijak”

Quote of the day:
Follow your heart but take your brain with you – Anonymous       

*CLBK adalah singkatan yang seringdipakai untuk Cinta Lama Bersemi Kembali
**Sepenggal lirik pada lagu Miley Cyrus yang berjudul We can’t stop

              

No comments:

Post a Comment