Akhir-akhir ini saya sering
dicurhati tentang masalah-masalah percintaan yang tak jauh-jauh dari bahagianya
jatuh cinta, jatuh cinta pada orang yang salah, CLBK*, diduakan, sampai cerita
perselingkuhan. Dari semua cerita yang saya dengar dan simak, semua cerita
punya satu kesamaan; para pelaku mengaku merasa nyaman.
Nyaman karena merasa dicintai.
nyaman karena bisa berbagi cerita. nyaman karena menemukan suasana baru. Nyaman
karena merasa bisa diterima. Intinya kenyamanan membuat mereka bahagia.
Masing-masing mengutarakan kisahnya dengan bahagia. Saya menyimak cerita mereka
dengan serius.
Cerita mereka rata-rata berakhir
dengan kegalauan. dengan keraguan. dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurut
saya jauh dari kesan nyaman.
Sebenarnya saya tidak merasa cukup
credible untuk mnjawab atau membantu mencari
jalan keluar, maka kepada beberapa dari mereka saya memberi perumpamaan sperti
begini; Rasa nyaman adalah ketika kita duduk atau rebahan santai seharian depan
TV, menikmati film serie favorit, atau main play
station, atau melakukan hal menarik lainnya yang mebuat kita nyaman tanpa
memperdulikan waktu, orang-orang sekitar, dan kegiatan lain yang seharusnya
kita lakukan. Bukankah itu suatu kenyamanan yang sulit untuk kita tolak?
Kenyamanan yang ingin kita nikmati selamanya. Yang rasa-rasanya tak mau kita
sudahi. Namun kita tidak mungkin selamanya duduk depan TV bukan? Kita tidak
mungkin selamanya bermalas-malasan menikmati kenyamanan itu. Ada saatnya –mau
tidak mau- kita harus beranjak untuk melakukan hal-hal lain. Di saat itu kenyamanan
berakhir, hidup berlanjut. Memang kita akan kembali duduk disitu, tapi apakah
kita akan merasakan kenyamanan yang sama? Apakah kursi itu masih kosong seperti
sebelumnya? Ini adalah ketidakpastian.
Banyak dari kita terkadang enggan
mengalami perubahan. Kita lebih memilih tinggal daripada beranjak. Lebih
memilih menderita daripada malu. Memilih nyaman daripada sakit hati. Memilih
melanjutkan daripada menghentikan. Sebagai pembenaran, kita sering berujar “Saya juga tidak tau kenapa bisa jadi begini”
atau “Saya bingung harus bagaimana”
atau “Semuanya mengalir alami”.
Ujaran-ujaran tersebut sama
sekali tidak mendasar. Bagaimana mungkin kita tidak tau apa yang kita lakukan
atau mengapa kita bisa sampai melakukan sesuatu? Bukankah itu konyol? Itu
kelemahan. Memang kelemahan bukan aib. Tapi kelemahan yang kita lakukan dengan
sadar –namun berdalih tidak sadar- adalah kelemahan yang seharusnya tidak ada.
Kitalah yang harus menguasai diri atas semua yang kita lakukan. Seperti kata
Miley Cyrus; We run things, things don’t
run we**.
Sekali lagi saya katakan, saya
tidak merasa cukup credible untuk
memberi saran, namun tips yang saya ‘jagokan’ dan selalu saya berikan adalah “
Nikmati apa yang bisa dinikmati selama bisa, namun tetap membumi. Tetap
berpijak di tanah. Jangan melayang barang sedikitpun dari bumi tempatmu
berpijak”
Quote of the day:
Follow your heart but take your
brain with you – Anonymous
*CLBK adalah singkatan yang seringdipakai untuk Cinta Lama Bersemi
Kembali
**Sepenggal lirik pada lagu Miley Cyrus yang berjudul We can’t stop
No comments:
Post a Comment