Friday, 17 April 2015

Hesty

Masih dalam suasana bersyukur telah ditambahkan setahun usia dari yang kuasa, hari ini ‘ketuaan’ saya mengingatkan saya pada seseorang yang tidak pernah sadar bahwa dia hebat.
Bertambah usia membuat saya merenung tentang apa saja yang sudah dan belum saya lakukan sejauh ini.

Perenungan ini membawa saya pada seorang wanita bernama Hesty.
Dia adalah seorang tukang cuci keliling di kompleks perumahan kami. Usianya beberapa tahun lebih muda dari saya. Dia tinggal di sebuah -katakanlah- gubuk di belakang kompleks perumahan kami beserta ketiga anaknya, Jerry (9), Benny (8), dan Vecky (2).. Suaminya, *tarik napas* bernama Yani, pria pengangguran, tak bertanggung jawab, yang baru saja memiliki anak bersama seorang wanita PSK*, dan sering masuk keluar bui karena banyak kejahatan. Kejahatan terakhirnya adalah KDRT**, yang menyebabkan Hesty babak belur. Sekitar beberapa minggu lalu, dia baru saja dibebaskan dari tahanan. Namun, bakat menyiksa&memukul seperti sudah mendarah daging.
Dua malam minggu lalu, yang adalah malam paskah, di saat semua warga kompleks sedang sibuk menyambut paskah di kompleks perumahan sebelah, Yani -kembali- menganiaya Hesty. Kali ini lebih sadis&kejam. Entah apa yang mereka ributkan sebelumnya, kabar yang kami dengar, Hesti dilempari tempat sampah besar, ditendang masuk selokan, diinjak-injak seperti becek, dan dipukuli dengan besi. Hasilnya.. Tulang lengan Hesty patah, wajahnya biru dan bengkak, matanya hampir tak bisa dibuka. Dipastikan untuk enam bulan kedepan, Hesty tak bisa bekerja. Anak-anaknya untuk sementara tinggal di rumah tetangga kami, sementara Hesty tinggal di rumah tetangga kami yang lain. Warga tak menginjinkan mereka tinggal di tempat mereka sebelumnya. Takut, kalau-kalau Yani muncul, dan menghabisinya lagi.
Seperti biasa Yani menghilang.

Kisah Hesty membuat saya berpikir panjang tentang arti menjadi seorang mama dan istri. Cintanya pada anak-anaknya terbukti lewat kerja kerasnya yang seperti tak ada habis-habisnya. Jadwal mencucinya sangat padat. Semua itu demi uang sekolah dan uang jajan anak-anaknya. Si bungsu Vecky yg bahkan baru berusia 2 tahun, seperti mengerti apa yang mamanya lakukan. Ia tak pernah rewel, dan mau saja dititipkan sana sini bila mamanya harus bekerja. Kedua kakaknya, bahkan tak jarang terpaksa bolos sekolah karena harus menjaga adik mereka. Beny kadang ikut para tukang mengangkut pasir. Sekedar untuk membawa pulang Rp. 5000 yang diberikannya pada sang mama dengan pesan “ini buat tambah-tambah beli beras”.
Ckckck.. Dari mana mereka belajar semua itu? Dari mama mereka, yang tau betul apa yang harus ia lakukan untuk hidupnya dan anak-anaknya. Sementara sebagai seorang istri, Hesty punya 2 hal.. "Cinta dan maaf". Apakah kita bisa seperti Hesty? Menerima suami kita kembali setelah dianiaya berulang kali? Apakah kita masih mempunyai cinta dan maaf untuk suami yang memiliki anak dari wanita lain? Hesty punya itu.
Dan ibaratnya menghargai orang yang berbeda keyakinan dengan kita, saya pun menghargai keputusan Hesty untuk tetap memaafkan dan mencintai Yani.

Hari ini, saya belajar dari Hesty. Seorang wanita muda yang kuat, yang sama sekali tak merasa dirinya special. Wanita lugu berhati baja.
Saya ingin memiliki hati seperti Hesty.
Semoga kamu cepat pulih, Hesty.
Tuhan menjagamu dan anak-anakmu.


Back sound: Superwoman - Alicia Keys
For all the mothers fighting
For better days to come
And all my women, all my women sitting here trying
To come home before the sun
And all my sisters
Coming together
Say yes I will
Yes I can


*PSK adalah singkatan dari: Pekerja sex komersial
**KDRT adalah singkatan dari: Kekerasan dalam rumah tangga

1 comment: