5 April 2015, Saya bertambah usia menjadi 37. Tua? Tidak! Saya tidak pernah merasa tua. :)
Usia 37 menjadi special buat saya ketika banyak hal luar biasa muncul di angka itu. Satu hal yang selalu saya sukai dari diri saya adalah bahwa saya tak pernah merasa tua :)
Saya senang melakukan hal-hal yang –mungkin- bagi orang-orang seusia saya dianggap kekanank-kanakan. Tapi saya tidak peduli. Selama apa yang saya lakukan tidak merugikan orang lain.
Pantang bagi saya merasa diri sebagai emak2, walaupun saya memang emak beranak 3.
Namun memberlakukan sistem "persahabatan" di antara anak-anak dan saya rupanya berhasil mengaburkan aura emak2 dalam diri saya tanpa menghilangkan jiwa keibuan saya di hati mereka.
![]() |
| Sahabat-sahabat kecil saya |
Membiasakan Elle dan Dee* memanggil saya "deb" bukanlah suatu usaha untuk tak mau menjadi ibu mereka, justru sebaliknya hubungan kami menjadi lebih erat.
Di usia 37, ada sekitar 150 anak sekolah yang memanggil saya “ma'am, miss, atau md”. Dan saya bangga. bangga karena saya bukan guru di sekolah formal, tapi bisa menjadi guru sekaligus sahabat bagi mereka.
Di usia 37, saya –masih senang- bergaul dengan mereka yang jauh lebih muda dari saya.
Kami sering nongkrong bersama, berpose depan kamera, tertawa lepas,dan mereka kerap mempercayakan curahan hati kepada saya.
Saya senang berada diantara mereka yang mungkin bagi sebagian orang yang berumuran seperti saya dianggap ‘kurang kerjaan'.
Tapi sekali lagi, saya senang! dan saya tidak merasa merugikan dan mencampuri kepentingan orang lain.
Di usia 37 saya semakin sadar bahwa berdamai dengan diri sendiri adalah kunci untuk bangkit dari kejatuhan. saya semakin mencintai diri saya, yang bukan berarti egois tetapi justru membuat saya semakin mencintai sesama seperti saya mencintai diri saya. Saya semakin terbiasa menerima kenyataan-kenyataan yang tadinya susah dicerna oleh pikiran. Saya juga semakin memahami bahwa memaafkan dan mengampuni orang yang telah menyakiti kita tidaklah segampang mengembalikan telapak tangan, tetapi juga tidak sesulit menyebrangi laut lepas.
Di usia 37, saya belajar untuk ikhlas seikhlas-ikhlasnya untuk melepaskan dan bersyukur sedalam-dalamnya atas berkat yang diberikan untuk saya.
Di usia 37, saya benar-benar meyakini bahwa Tuhan telah mengatur segala sesuatu indah pada waktunya. Dan bahwa Tuhan hanya sejauh doa.
Di usia 37, saya memutuskan untuk bertransformasi ke tahapan hidup yang –mungkin akan- lebih sulit dari sebelumnya. Ke tahapan hidup, dimana tanggung jawab saya terhadap Elle dan Dee harus lebih saya utamakan diatas kepentingan siapapun atau apapun di dunia ini. Tahapan dimana saya percaya bahwa ‘sendiri’ bukan berarti runtuh dan ‘bersatu’ tidak selamanya berarti teguh.
Transformasi berarti siap dibentuk lebih sempurna.
Transformasi berarti menjadi lebih matang dari sebelumnya.
Transformasi berarti meninggalkan yang lama dan menjadi lebih baik.
Transformasi berarti belajar dari kesalahan-kesalahan terdahulu.
Transformasi berarti siap ‘terbang’ lebih tinggi dan jauh.
Transformasi berarti menjadi lebih baik.
Sebagai transformasi, di usia 37 -dengan ikhlas dan bersyukur, lewat tulisan pertama di blog saya ini- untuk pertama kalinya di depan publik, saya mengaku sebagai single parent. Walau saya sadar bahwa keputusan yang saya ambil tidaklah mudah, dan bahwa –mungkin- nasib saya tidaklah seberuntung kalian yang sedang membaca tulisan ini, Tapi saya memutuskan untuk BAHAGIA.
Quote of the day:
If someone becomes their own bestfriends, their lives will be easier – Anonymous
* Elle dan Dee adalah putri-putri saya, Mirelle Daphney dan Divya Manjusha Pelmelay. di antara mereka, ada seorang malaikat tampan bernama Ezekiel Mischa Pelmelay yang kini berada tenang di pangkuan Bapa di Sorga.






Wow for this post. For transform it does need an honestly to wriye a new chapter for our life. And you did it. You did a great job,dear Debra :*
ReplyDeleteThank you, sasa dear :*
ReplyDelete