Saturday, 26 October 2019

VIC MENANG BANYAK


Namanya Victor Hariano Latupeirissa.
Saya pertama kali mengenalnya sebagai anak muda yang berada di balik panggung #TROTOART.
Belum lama memang. Baru sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu. Saya lupa tepatnya. 


Saya tidak ingat persis bagaimana awal mulanya kami bisa seklop ini, sejauh yang saya ingat panggung pertama yang kami kerjakan bersama adalah untuk group musik Loleba di awal 2014.
Setelah itu, semuanya mengalir dari satu panggung ke panggung lainnya hingga membawa kami ke tujuan yang sama.

Kami sama-sama menyalakan api. Tujuan kami sederhana; menjaga supaya bara api tidak sampai padam.
Victor punya kekuatan itu. 

Mengenal, berkawan, bekerjasama, kemudian bersahabat sangat erat dengannya adalah anugerah yang hingga detik ini saya syukuri. 

Tanggal 23 Oktober 2019 kemarin, jam 5.32 pagi hari. Saya mendengar kabar duka itu. Pesan yang masuk pendek tapi menusuk hingga ke jantung.
“Kaka, Vic su seng ada lai”  (kak, vic sudah tiada)

Hanya dengan sekali tiupan, seketika api yang sedang berkobar hebat itu.. padam.

Dia pergi meninggalkan cerita yang belum tuntas kami tulis.
Dia pergi tanpa kata-kata perpisahan.
Dia pergi dengan kenyataan pahit yang harus saya tanggung bahwa saya tidak akan pernah bisa berjumpa dengannya lagi.
Sakit sekali ditinggal seperti itu.

Hari ini hari ketiga dia pergi. Masih banyak yang ingin saya katakan padanya.
Dan saya percaya Vic mendengar semuanya. Karena itu saya ingin menulis sebuah surat pendek untuknya.

Viiiiiic,
Apa kabar disana? Beta rindu Vic! 

Vic seng suka kehebohan-kehebohan di social media to? Maar ini Vic sendiri yang bikin heboh. Vic su lia orang-orang posting tentang Vic pung kepergian? Semua orang kehilangan. Semua orang tulis yang baik-baik tentang Vic. Semua orang puji Vic. Beta percaya bukan karena Vic su seng ada lalu dong tulis begitu. Tapi memang karena Vic hebat! Beta baca semua tulisan tentang Vic deng air mata. Air mata sedih karena Vic su jauh, dan air mata bangga karena beta bisa kenal sosok hebat kayak Vic.

Di antara sekian banyak hal baik yang Vic bagi deng beta, satu yang paling beta salut dari Vic yaitu Vic pung kemurnian hati. Tidak pernah ada yang dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi. Itu luar biasa. 

Vic pernah bilang par beta “Misdeb, katong seng usah muluk-muluk. Yang penting katong tujuan bae. Percuma katong bikin sesuatu yang besar tapi seng banya orang rasa akang pung bae”  
Sesederhana itu seorang Victor. Semurni itu Vic pung hati.

Vic inga dulu pernah satu kali katong 2 pulang, singga makan ayam lalapan depan MCM. Vic cerita Vic ditawari ikut seleksi untuk belajar seni pertunjukan panggung selama 1 tahun di luar negeri. Tapi Vic seng mau ikut seleksi, karena menurut Vic terlalu lama dan jauh dari Ambon.

Alasan itu menurut beta agak  kaku untuk anak muda sekreatif Vic. Tapi Vic selalu tau apa yang Vic lakukan.
Terakhir beta chat deng Vic katong dua masih bahas tentang pekerjaan. Hanya beberapa jam sebelum Vic menghembusakan nafas terakhir. Katong dua masih membicarakan rencana-rencana yang harus katong dua bikin besok. Dan di saat itupun Vic masih memikirkan  kepentingan banyak orang.

Ah, Vic. Betapa manis hidupmu.

Danke untuk kebersamaan mahal yang tak sebanding dengan apapun.
Danke untuk perhatian yang Vic berikan par beta.
Danke untuk obrolan-obrolan berkelas yang seng semua orang bisa dapa akang.
Danke untuk pelajaran seni panggung luar biasa yang Vic kasi par beta cuma-cuma.
Danke untuk kesenangan-kesenangan sederhana yang katong ciptakan dan nikmati sendiri.
Danke untuk cerita-cerita hidup yang bikin katong semakin hidup.
Danke untuk tumpangan ke rumah hampir tiap hari.
Danke untuk malam-malam beerbincang yang selalu menghadirkan kebahagiaan.
Danke untuk ide-ide cemerlang yang tak ikut mati.
Danke su hadir di beta hidup..

Vic janji ee.. harus bikin panggung-panggung  bagus disana. Nanti beta bikin disini.
Walaupun katong dua berada di dimensi yang berbeda, tapi selama semangat itu masih sama, maka seng ada yang berubah dari katong dua pung mimpi-mimpi. Mari katong wujudkan akang, Vic e.
Beta janji api itu seng akan mati lai!!  
Danke su sayang beta deng kasih luar biasa yang seng perlu diumbar tapi tumbuh di dalam.
Beta lai sayang Vic!

       “Spread your wings and keep flying, Vic. See you in the sky”
   

Thursday, 21 July 2016

Catatan Bali 2016

Saya sudah sering ke Bali. Tapi perjalanan kemarin sedikit berbeda. Bagi Elle dan Dee, Bali kali ini berarti pelukan sang papa. Sementara bagi saya, awalnya saya hanya berharap ini liburan biasa. Refreshing. Ternyata saya salah! Bali kali ini lebih dari sekedar liburan. Bali kali ini adalah pelajaran berharga bagi saya. Perjalanan penuh kejutan.     

Kami sudah merencanakan perjalanan ini sejak beberapa bulan yang lalu. Rencana besarnya adalah merayakan ulang tahun Elle di Bali. 

Setibanya kami di bandara Ngurah Rai, Bali.
Ini merupakan pertemuan Elle dan Dee bersama Geyi, sang papa setelah lebih dari setahun mereka berpisah. Bisa dibayangkan bagaimana haru biru pertemuan mereka di bandara :) 

Setiba di sana, sesuai kesepakatan Geyi dan saya sebelumnya, Elle dan Dee akan tinggal bersama Geyi selama liburan ini. Sementara saya tinggal bersama kakak saya -yang saya panggil Bu. Dan oleh Elle dan Dee disapa Ombu- yang juga bekerja di Bali.

Sejauh ini saya senang melihat kebahagiaan yang terpancar dari mata dan raut wajah Elle dan Dee. Malam pertama di Bali, saya berdoa. Sederhana saja; semoga liburan kali ini bisa membahagiakan Elle dan Dee. Bisa menggantikan waktu mereka selama setahun tanpa Geyi. Dan itu memang harapan saya. Harapan seorang mama yang merasa bersalah karena -bukan sengaja- memisahkan anak-anak dari sang papa. 

Walau kami tinggal terpisah, tapi Elle dan Dee menikmati hari-hari mereka dengan gembira dan berlimpah kasih sayang. Kami merayakan ulang tahun Elle hanya berempat. Jauh dari keramaian. Setiap hari kami bertemu. Kami berempat menghabiskan waktu dengan normal selayaknya liburan keluarga 'bahagia' lainnya. 

Lokasi: Karangasem, Bali Timur
Mengapa saya menggunakan kata 'normal'? Karena hubungan kami memang tidak 'normal' sebagaimana seharusnya sebuah keluarga 'normal'. Geyi dan saya sudah hidup terpisah sejak 2013, dan sejak saat itu, Elle dan Dee tinggal bersama saya. Itu sebabnya liburan kali ini 'penting' bagi kami. 

Sebagai orang tua, Geyi dan saya ingin sekali membuktikan bagi Elle dan Dee bahwa walaupun mereka tidak hidup dalam keluarga yang utuh, walaupun papa dan mama tidak lagi bersama dalam ikatan suami istri, namun Elle dan Dee tak kalah bahagia dibanding mereka yang hidup bersama papa dan mama. Bahkan saya -dengan segala 'kekuatan' yang saya miliki- ingin membuktikan bahwa Elle dan Dee mungkin saja lebih bahagia dibanding teman-teman mereka yang tumbuh dalam keluarga 'normal'. 

Khusus bagi Elle, pada usianya yang keempatbelas, Geyi dan saya menaruh 'perhatian khusus' selama liburan kemarin. Setelah kami berdua menyepakati beberapa hal, secara terpisah -kepada Elle- kami mengutarakan rencana-rencana kami. Rencana-rencana pribadi yang menyangkut kehidupan kami ke depan, yang tentu saja melibatkan Elle dan Dee. Leganya kami, ketika secara dewasa, Elle bisa memahami keadaan keluarganya. Elle bisa dengan bijaksana menerima keputusan-keputusan papa dan mamanya. Tanpa Elle sadari, saya -dan tentu saja Geyi- bangga terhadap Elle. Satu hal yang selalu kami ingatkan kepada Elle dan Dee, bahwa mereka tidak akan kekurangan sedikitpun kasih sayang dari kami. Kami jamin itu! 

Geyi dan saya sepakat untuk selalu menunjukan di depan Elle dan Dee bahwa hubungan kami baik-baik saja. Bahwa papa dan mama mereka akur. 

Geyi dan Deb-nya Elle dan Dee
Geyi bahkan berkali-kali mengatakan pada Elle dan Dee bahwa kami saling menyayangi, walaupun hubungannya berbeda dari hubungan orang tua pada umumnya. Dan benar apa yang dikatakan Geyi. Saya merasakannya. Kami berdua memang saling menyayangi. Bahkan melebihi cara kami saling menyayangi sebelumnya. Inilah inti dari apa yang ingin saya bagi melalui tulisan ini. Saya belajar terlalu banyak dari perjalanan kami kemarin. 

Saya memang gagal menjadi istri. Tapi saya tidak gagal menjadi mama. Saya memang gagal mempertahankan hubungan rumah tangga. Tapi saya tidak gagal dalam menjalin hubungan baik dengan mantan pasangan. Saya memang gagal memegang janji teguh di depan altar 15 tahun yang lalu. Tapi saya tidak gagal menjalani perintahNYA untuk mangampuni dan tetap mengasihi. Saya memang gagal menjadi contoh bagi Elle dan Dee tentang bagaimana selayaknya menjadi istri yang patuh pada suami. Tapi saya tidak gagal menjadi contoh bagi Elle dan Dee tentang bagaimana menjadi perempuan yang tidak lemah. 

Saya tidak pernah menghakimi mereka yang 'terlihat' hidup rukun dalam ikatan keluarga utuh, maka lewat tulisan ini, saya mohon agar tidak dihakimi atas keputusan-keputusan saya. Dengan segala kerendahan hati, saya mohon agar tidak dihakimi seakan-akan jalan yang saya pilih ini salah. Karena benar atau salahnya keputusan saya, bukan ditentukan oleh siapapun. Alangkah indahnya bila masing-masing manusia saling menghargai dalam relasi horizontal dengan sesama, maupun bertanggungjawab atas relasi vertikalnya dengan sang pencipta tanpa saling menghakimi.
    
Saya ingin berterimakasih bagi semua yang dengan tulus mendoakan hubungan kami. Bagi teman-teman yang dengan tulus berharap kami kembali rujuk sebagai pasangan suami istri. Namun dengan segala kekurangan saya, saya meminta maaf karena kami punya cara sendiri dalam mengambil keputusan. Karena kami sudah sangat bahagia pada tahap di mana kami berada sekarang. Karena kami telah memaknai hubungan kami dengan kedewasaan yang mungkin susah dipahami oleh sebagian orang.

Lewat tulisan ini juga, saya ingin menyatakan bahwa mungkin saja hubungan saya dan mantan pasangan saat ini lebih bahagia dan lebih saling menyayangi daripada hubungan pasangan suami istri yang 'normal'. Mungkin saja :)  
Intinya kami bahagia. Tanpa kemunafikan dan kepura-puraan. Bukankah itu makna kehidupan yang paling hakiki? 

Fantastic four :) 
Demi EM*, Geyi dan saya pernah berjanji untuk menjadi papa dan mama terbaik bagi Elle dan Dee. Dan itu janji yang akan kami buktikan terus dan selamanya kepada Elle dan Dee. Bukan kepada orang lain :) 


Ambon, Juli 2016.


*EM; Panggilan Ezekiel Mischa, anak kedua kami. Malaikat tampan yang kini bahagia di surga.





    
              




Wednesday, 10 February 2016

Prahara

Sebenarnya ini bukan tentang kepergianmu. Bukan! Karena aku tau setiap yang datang pasti akan pergi. Dan ini adalah giliranmu.

Yang membuat aku tersentak adalah kenyataan bahwa kepergianmu mampu membuatku setengah mati. Dan aku tak suka itu.

Yang membuat aku kembali tersentak adalah kenyataan bahwa aku –yang selalu sanggup memilih bahagia dalam keadaan apapun- kalah melawan rasa kehilangan akan dirimu.

Dan yang lagi-lagi membuat aku tersentak adalah kenyataan bahwa ternyata kamu pergi bukan tanpa membawa apa-apa. Kamu membawa separuh hatiku! Dan itu jahat, teman!

Yang juga membuat aku tersentak adalah kenyataan bahwa aku terus dan terus mengenangmu. Dan aku tak suka kenangan. Karena kenangan berarti ingatan. Dan ingatan berarti pelukanmu. 

Pelukanmu berarti kenyamanan. Kenyamanan berarti (hanya) sementara. Dan itu kamu; sementara! 




Wednesday, 27 January 2016

Teman (se)Jiwa

Akhir – akhir ini aku dikelilingi cinta. Mmm sebenarnya bukan cinta sih, tapi orang-orang yang sedang mabuk. Mabuk cinta :)
Aku senang melihat mereka bahagia. Karena aku percaya, berada di sekeliling orang-orang yang bahagia, akan mendatangkan hal-hal baik. Hal-hal positif. Aura positif :)

Walau aku sudah lama tak mengimani CINTA…

Selama ini satu-satunya CINTA yang aku percaya hanyalah CINTA Yesus kepada manusia, Namun baru-baru ini aku nyaris dikelabui oleh CINTA. Aku nyaris percaya akan eksistensi CINTA antara manusia, Tapi lagi-lagi terbukti bahwa CINTA itu ilusi. Maaf, bagi yang tidak sepaham. Menurut aku, urusan percaya ada atau tidaknya CINTA dalam hubungan horizontal antar manusia, sama halnya dengan urusan keyakinan. Urusan agama. Berbeda-beda.

Lalu aku berpikir, kalau bukan CINTA, apa ini namanya? Perasaan bahagia, cemburu, marah, pasrah, tergantung. berbagi. Semua hal-hal tadi menjadi indah untuk dilakukan. Bersama-sama. Berdua. Aku bisa menjadi apa adanya diriku bila bersamanya. Bertengkar seperti pasangan suami istri, bebas bercerita apa saja seperti sahabat, bersenang-senang selayaknya bocah, dan saling menjaga seperti saudara kandung. Terdengar sangat ideal. 
Apa ini CINTA? Aku nyaris percaya! Namun tiba-tiba, aku tersadar, ini tidak abadi! Tidak ada yang abadi.


Lalu apa namanya keindahan tadi?? Seperti sedang memecahkan soal matematika, berbagai pikiran berkecamuk di kepalaku. Aku terus berpikir, apa ini namanya? Kemarin pagi, aku berdiskusi dengan seorang teman tentang CINTA. Dia, adalah penganut fanatik CINTA. Dia percaya CINTA itu nyata. Aku bertanya “How big do you put your trust in LOVE?” Dengan tegas dia menjawab “All of them”, katanya lagi “LOVE doesn’t hurt. Loneliness hurts, rejection hurts, losing someone hurts, envy hurts. Everyone got the things confused with LOVE. The reality is LOVE is the only thing in this world that convers up all pain and makes someone feel wonderful again

Hmmm ulasan yang masuk akal, pikirku. Bukan masuk akal sebenarnya, tapi manusiawi. Aku sempat terdiam dan berpikir benarkah demikian? Hingga pagi tadi! Tiba-tiba aku menyadari satu hal. yaitu tentang pasangan jiwa.

Tentang dia, yang aku ceritakan tadi, aku menganggapnya teman jiwa. Kami memiliki satu jiwa. Kami berbagi jiwa. Karena itu kami bisa tampil apa adanya di depan masing-masing. Kami saling menjaga. Karena kami teman sejiwa. Menjaga dia, sama seperti menjaga jiwaku. Kami berbagi bahagia. Karena bahagianya, adalah bahagiaku. Karena kami teman sejiwa. Pasangan jiwa. Soulmate.

Lalu, mengapa tak bisa hidup bersama? Baru tadi pagi pula aku menemukan jawabannya. Karena teman hidup dan teman jiwa itu berbeda. Berbagi hidup memerlukan yang namanya CINTA. Bayangkan saja bila kita menghabiskan hidup bersama seseorang tanpa rasa CINTA. Tak bahagia pastinya. Aku jamin itu! Kalaupun ada yang mengaku bahagia, maka maaf jika aku tak peracaya. :)


Lain hal dengan teman jiwa. Teman jiwa tak perlu hidup bersama. tak perlu pengakuan semua orang bahwa mereka pasangan. Karena teman jiwa adalah urusan dua jiwa. Tidak lebih. Teman jiwa bukan pilihan. Melainkan reaksi alami yang timbul karena dua jiwa yang saling mengikat. Saling mengisi kebutuhan masing-masing. Kebutuhan jiwa. Yang menurutku lebih penting. 

Alangkah bahagianya bila teman hidup dan teman jiwa adalah sama. Tapi aku tak menyesal, karena seandainya dia adalah juga teman hidupku, belum tentu kami bisa se-terikat ini.

Dan aku tetap bahagia, walau tak berbagi hidup bersamanya.
Karena hidup bisa berakhir tak bersama. Tapi jiwa, tak mungkin saling meninggalkan :)

Wednesday, 26 August 2015

Cerita pagi ini

Tadi pagi aku bercerita dengan Bapaku tentang dirimu.

Dengan polos aku memintamu dariNya.
Aku katakan begini:
Bapa, aku ingin dia. aku yakin aku lebih menyayanginya daripada susan. Boleh kan dia untukku saja? boleh ya?

Dan Bapa menjawab:
Anakku terkasih, itu benar bahwa kau lebih menyayanginya, tetapi susan lebih membutuhkan dia. maukah kau bersikap manis dan mengalah pada susan? Aku janjikan seseorang yang lebih baik untukmu, nak.

Aku sedikit kecewa mendengar jawaban Bapa.
Namun aku percaya padaNya.
Kemudian aku tenang.
Terimakasih, Bapa. Aku pegang janjiMu.


Tuesday, 30 June 2015

Selamat malam, Hujan.

Dear Hujan,
akhirnya, kita tiba di persimpangan..
tadi aku mendapatimu mengunjungi Bumi. tapi hanya sebentar, kemudian kau menghilang.

Apakah itu berarti kau benar-benar sudah membulatkan tekad untuk meninggalkan Bumi?

Aah, aku benci perpisahan.
bukan karena berpisah berarti selesai.
tapi karena berpisah berarti kenangan.
dan kenangan berarti ingatan.

Aku benci ingatan karena ingatan berarti pelukanmu.
aku benci pelukanmu karena pelukanmu berarti kenyamanan.
aku benci kenyamanan karena kenyamanan berarti (hanya) sementara.


Seperti setiap perpisahan, malam ini aku melihat Hujan membisikan kata-kata terakhirnya kepada Bumi.



Apapun yang dibisikan Hujan pada Bumi, apapun itu, menurutku pasangan terbaik Bumi adalah Hujan. bukan Matahari. bukan Bulan.

Selamat malam, Hujan. Selamat malam, Bumi.



Monday, 29 June 2015

(Bukan) Cinta

Hujan semakin menjauhi Bumi. sejak pagi tadi Bumi terlihat cantik bersama Matahari -yang masih malu-malu nampak menemani Bumi-.
Atau mungkin Matahari takut ketahuan Bulan.

Apa aku bilang, cinta memang konyol kan? mungkin bukan cinta, tapi hal-hal yang menyertai cintalah yang konyol.
Karena itu sudah sejak lama aku berhenti berurusan dengan cinta.

Tentang ini, aku punya teori sederhana.
kalau cinta diartikan sebagai anugerah untuk membahagiakan, mengapa harus ada patah hati?

Apakah benar adanya, mengalah dan berkorban adalah bagian dari cinta?

Apakah benar adanya, kalian mencintai tanpa tuntutan untuk dicintai balik?

Kalau cinta diartikan sebagai anugerah untuk membahagiakan, atau memberi tanpa menerima, maka satu-satunya cinta yang aku akui hanyalah cinta Yesus. pernahkah kalian merasa tidak dicintai olehNya, walau hanya sedetik?

Hmmm, mungkin Hujan meneladani Yesus. karena selain Yesus, Hujan juga tak ada bosan-bosannya pada Bumi.
pernahkah kalian melihat Hujan menuju arah lain selain kepada Bumi?


Maka jika kalian bukan Yesus, atau bukan Hujan, berpikirlah banyak sebelum mengakui diri sebagai pecinta.






Sunday, 28 June 2015

Pada Hujan aku belajar

Pagi ini Bumi sedikit basah. langit tampak mendung, tidak secerah kemarin. sepertinya Hujan mulai merindukan Bumi. walau ia masih malu-malu mengakuinya.

Pada Hujan aku belajar.

tentang kapan harus mencintai.
tentang kapan harus mengalah.
tentang kapan harus merebut kembali.
tentang kapan harus melepas.
tentang kapan harus setia.
tentang kapan harus mengikhlaskan.
tentang kapan harus peka.

Pada Hujan aku belajar.

bahwa cinta tak harus memiliki.
bahwa cinta tak selamanya berarti bersama.
bahwa cinta tak seindah yang dibayangkan.
bahwa patah hati adalah cinta yang sesungguhnya.

Pada Hujan aku belajar.

walau aku tau cinta itu omong kosong.
walau aku sadar cinta itu menyakitkan.
walau aku percaya cinta -seperti cinta Hujan pada Bumi- itu tidak pernah ada.

Pada Hujan aku belajar. banyak.


Saturday, 27 June 2015

EZEKIEL MISCHA he is

Hari ini hujan belum juga kembali pada bumi. sementara bumi semakin nyaman dimanjakan oleh matahari.
Tapi hari ini aku tak ingin memikirkan hujan, atau matahari, atau bumi, ataupun cinta segitiga mereka dengan segala kekonyolannya.

Karena hari ini, aku ingin mengenang cintaku, yang 9 tahun lalu pergi meninggalkanku.

(Tulisan ini adalah tulisanku 9 tahun lalu, beberapa hari setelah aku kehilangannya)


In Memoriam of our beloved angel, Ezekiel Mischa (EM)

Oh Where…oh where can my baby be….
The Lord took her away from me,
She’s gone to heaven so I’ve got to be good
So I can see my baby when I live this world….
(a song by Pearl Jam)


My Truly Dearly Son,
Apa kabar nyong?
Lagi ngapain di 'sana’?
Mudah-mudahan lagi tidur pulas,
Mudah-mudahan lagi mimpi indah tentang saat bersama db.
Dan mudah-mudahan juga seng ada yang ganggu EM.
Kalo ada yang bikin EM manangis, bilang par Tete Manis. db yakin Tete Manis selalu gendong EM. Iya kan?

Btw, bedak deng wangi-wangi yang kaka Elle kasi su pake blom sayang? Aduh EM pung kaka tu sangking batal jadi kakak, kadar ’kacau’nya semakin menjadi – jadi, hehehe... dia percaya EM sekarang jadi malaikat pelindung dan selalu ada di atas kepalanya. :) dia excited sekali wktu tulis buku puisi par EM. :) dia belajar ’keras’ par tulis nyong pung nama. Tapi usahanya boleh juga kan? :) She really loves you, honey..

Sementara geyi, sekarang jadi lebih dewasa, wise, dan tambah sayang db deng kaka elle. Walau db tau geyi jua berat menghadapi rasa kehilangan EM, namun di depan db dan kaka elle, geyi selalu mencoba tenang. Oh ya, gey pung buku par EM su dibaca sayang? Itu geyi su tulis sekitar dua bulan yang lalu dan rencananya mo kasi par EM sebagai kado ulang tahun ke 12.

Kalau db sendiri sampe saat ini masih susah payah ator puzzle di hati ni. Sorry sayang, tapi db masih sedih ditinggal EM. 8 bulan sama-sama EM kemana-mana sangat berarti buat db. EM su jadi saksi bisu yang tak benar-benar bisu atas semua hal yang db lakukan selama 8 bulan.
’Hilang’nya EM dari db pung perut, bikin db terobsesi menjadi orang baik, supaya kelak bisa bakudapa EM di sorga!

EM dear,
Demi EM, db janji akan menjadi db terbaik buat kaka elle.
Elle dan Em merupakan karya terhebat dan mujizat terindah dari Tuhan par db deng geyi.
Dong dua membuktikan bahwa Tuhan hanya sejauh doa.
Hanya lewat doa pendek nan padatnya Elle ( Tuhan Yesus, kasih aku ade satu jua..) maka EM ada di db perut. :)
Demi dong 2, db deng geyi percaya bahwa cinta memang ada. Dong dua adalah cinta sesungguhnya bagi db dan geyi.

Ah EM, seandainya db tau apa yang bisa db bayar untuk memberi EM arti sebuah kehidupan, db akan bayar berapapun / apapun itu. Tapi geyi bilang, untuk apa ‘merusak’ jiwa yang begitu putih dan bersih. EM, -katanya lagi-, merupakan perangkum kehidupan dan kematian. Kini katong yakin EM bahagia di 'sana’.

Danke ya sayang untuk 8 bulan terhebat dalam hidup kaka elle, geyi, dan db.
EM akan selalu ada di katong 3 pung hati.

Tidurlah sayang....
Terbanglah sayang....
Selamat jalan, Ezekiel Mischa.....
We’ll miss you forever!!


Ur true luv,
db.

Friday, 26 June 2015

Masih Matahari

Masih seperti kemarin, hujan belum kembali pada bumi. masih dibiarkannya matahari menikmati bumi. atau dibiarkannya bumi menikmati matahari.

sama seperti hujan, hari ini aku masih membiarkan susan menemanimu.
aku mulai terbiasa.

tapi aku bahagia. karena seperti janji kita waktu itu; tiap malam kita pasti bertemu dalam doa sebelum tidur.

iya, tiap malam aku mensyukuri hadirmu.
sampai jumpa nanti malam :)

Thursday, 25 June 2015

Bukan hujan (dan aku) yang konyol tapi cinta.

hari ini hujan mengalah pada matahari.

sebesar itu cinta hujan pada bumi, hingga dibiarkannya matahari menemani bumi karena dia tau bumi lebih bergairah bersama matahari.


[hari ini aku mengalah pada susan.

sebesar itu cintaku padamu, hingga kubiarkan susan menemanimu, karena aku tau kau lebih berguna baginya]

terdengar konyol?
memang! karena cinta dan segala urusan 'mengalah' demi cinta memang konyol.


Wednesday, 24 June 2015

.hujan.dia&kamu.hujan.

hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. dia&kamu. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan.hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan.

[masih (hanya) dia&kamu (yang semakin dekat saja) di antara hujan hari ini]

Tuesday, 23 June 2015

.hujan. dia. kamu. hujan.

hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. dia. kamu. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan.

[hanya tersisa dia dan kamu di antara hujan hari ini. berdekatan. sangat dekat]

Monday, 22 June 2015

.hujan. dia. hujan. kamu. hujan. hujan. aku.

hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. dia. hujan. hujan. hujan. kamu. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. aku. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan.

[ada kamu. aku. dan dia di antara hujan hari ini]

Sunday, 21 June 2015

.hujan.kamu.aku.hujan.

Hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. kamu. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. aku. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan. hujan.

[ada kamu dan aku di antara hujan hari ini]

Saturday, 20 June 2015

Tentang Hujan yang setia pada Bumi

Hey kamu!
Malulah pada hujan!

Dia setia mencintai bumi!
tak pernah ditujunya arah lain, selain kepada bumi.

Dia setia mencintai bumi!
selalu kembali pada bumi, meskipun bumi terlihat lebih bahagia bersama matahari.

Dia setia mencintai bumi!
rela melindungi bumi dari matahari yang agresif.

Dia setia mencintai bumi!
masih ingin menemani bumi, tapi dia tau akibatnya bila berlama-lama bersama bumi.

Dia setia mencintai bumi!
dengan segala romantismenya, dia tau bagaimana membahagiakan bumi.

Hey kamu!
belajarlah pada hujan :)

Friday, 19 June 2015

Aku curiga

Aku curiga kau ini hujan.

Hujan masih sangat deras.
Kau masih tak terjangkau oleh hatiku

Hujan menghantam bumi dengan tetesan-tetesannya ibarat peluru yang siap membunuh dengan membabibuta.
Kau menghujam jantungku dengan pesonamu yang kian hari kian menjadi-jadi

Mereka yang tinggal di kaki bukit memohon kepada yang maha kuasa agar dijauhkan dari bencana banjir.
Aku memohon kepada yang maha kasih agar dijauhkan dari cinta yang pilih kasih

Aah, aku curiga. kau ini hujan

Thursday, 18 June 2015

Hari ini

Hey teman!
Kali ini aku ingin bercerita padamu tentang hariku.

Aku awali hari ini dengan bahagia, sama seperti hari kemarin; bersamamu dan hujan.

Aku menghabiskan pagi hingga siang bersama kedua konco kecilku, Elle dan Dee. Hari ini -karena sudah libur sekolah- mereka menemaniku menyelesaikan beberapa urusan kerjaan dan kemudian makan siang bertiga. Karena hari hujan, kami memilih bakso sebagai menu makan siang hari ini.

Setelah perut terisi dan mengantar Elle dan Dee pulang, aku melanjutkan kegiatan di rumah Rizky&Rizka. Walau hari ini hari pertama bulan Ramadhan, tetapi aku tetap mengajar kedua kakak beradik itu. Mereka memang anak-anak yang semangat. Di saat murid-muridku yang lain memilih liburan, mereka tetap menjadwalkan "sesi bersama MD" dalam agenda liburan mereka.
Sejauh ini, hariku masih menyenangkan.

Hariku berlanjut dengan yang "sehat-sehat". Iya, walau hujan dan udara sedikit dingin, namun aku tetap semangat berolahraga. Sudah satu tahun terakhir ini, aku bergabung dengan club senam, dan rutin mengikuti berbagai jenis senam seperti zumba, aerobic, body language, body combat, super body super brain, dan pilates. Untuk kebiasaan hidup sehat, aku menganggapnya sebagai gaya hidup dan bukan lagi trend semata.


Setelah menyehatkan tubuh, aku menuju rumah bersama komunitas anak muda Ambon; Paparisa Ambon Bergerak. Sudah menjadi kebiasaan kami berkumpul dan menghabiskan waktu di sana. Banyak kegiatan positif yang bisa berkembang di sana. Bahkan hanya dengan duduk dan mengobrol santai, kadang lahir ide-ide cemerlang yang bisa dikembangkan.
Sejauh ini, hariku masih sangat menyenangkan.

Malam kian larut, akupun beranjak kembali ke rumah. Setelah sejenak menemani Elle dan Dee hingga akhirnya mereka tertidur, aku kembali ke kamarku, ruangan ternyaman dan tempat paling intim bagi aku dan diriku sendiri.


Tempat paling pribadi, di mana aku mengawali dan mengakhiri hariku.

Setelah sejenak menonton DVD, -sama seperti bagaimana aku mengawali hariku- aku mengakhirinya dengan obrolan singkat bersamamu; hal kecil yang membahagiakan.
:)

Well teman, menjadi bahagia itu mudah. Cukup dengan menjadi diri sendiri, melewati hari dengan orang-orang yang membawa dampak baik, dan (hanya) melakukan hal-hal yang benar-benar berguna.

Semoga hari ini kamu juga bahagia, teman :)

Wednesday, 17 June 2015

Dear you

Dear you,
Terima kasih sudah membangunkanku pagi ini.
Di luar jendela hujan lebat sekali.
Dan aku bersyukur karena aku yakin hari ini aku akan baik-baik saja.
Kau tau mengapa? Karena hal pertama yang aku alami hari ini adalah kau :)

Di luar hujan semakin lebat.
Dan aku semakin bersyukur karena aku yakin hari ini aku akan bahagia-bahagia saja.
Kau tau mengapa? Karena hal pertama yang kau alami hari ini adalah aku :)

Good morning, you! :*







Tuesday, 16 June 2015

Ini. Hari. Hujan

Hujan hari ini.
Hari ini hujan.
Ini hari hujan.
Ini (loh) hari hujan.
Hujan ini hari.
Ini hujan, Hari.
Hari, ini hujan.
Hujan, ini Hari.

Hujan, kamu asik yaaa..